Tari Glipang berasal dari kebiasaan masyarakat Kabupaten Probolinggo dan menjadi tradisi turun-temurun. Nama \”Glipang\” berasal dari Bahasa Arab \”Gholiban\” yang berarti kebiasaan.
Tari Glipang tidak hanya tarian biasa, tapi juga simbol keberanian prajurit yang mengusir penjajah Belanda. Semboyan \”katembheng poteh mata angok poteh tolang\” berarti lebih baik mati daripada menanggung malu di tangan penjajah. Tarian ini mencerminkan karakter religius warga Probolinggo.
Tari Glipang terdiri dari tiga gerakan, dengan Tari Kiprah Glipang sebagai gerakan utama yang menggambarkan ketidakpuasan Sari Truno terhadap penjajah Belanda. Gerakannya memadukan Rudat, Topeng Gethak Madura, hadrah, samman, dan pencak silat, dilengkapi riasan dan kostum prajurit yang kuat dan pantang menyerah.
Busana merah dan hitam melambangkan keberanian, dan aksesoris seperti odeng, rompi, sabuk blangdang, lancor, sampur, gungseng, dan keris menunjukkan identitas prajurit yang berani.
Tarian ini tetap memegang teguh aturan tradisional dan menggunakan alat musik tradisional seperti ketipung lanang, ketipung wedok, kecrek, terbang, dan jidor, yang melambangkan ajaran Islam untuk berbuat baik dan menghindari larangan





