إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
Penjelasan Hadits Hadits ini menunjukkan bahwa niat adalah kriteria sahnya amal perbuatan. Jika niatnya baik, maka amal perbuatan pun akan baik, dan sebaliknya. An-Nawawi menyatakan bahwa setiap perbuatan seorang Muslim harus memiliki niat yang berpusat pada tiga poin ini: Adab Para Pencari Ilmu 1. Melakukan perbuatan karena takut kepada Allah Yang Maha Kuasa. Inilah ibadah para hamba. Jika ditanya, “Mana yang lebih baik, beribadah dengan rasa takut atau dengan harapan?” Al-Ghazali, semoga Allah merahmatinya, berkata: “Beribadah dengan harapan lebih baik karena harapan mengarah pada cinta, sedangkan rasa takut mengarah pada keputusasaan.”
2. Melakukan perbuatan dengan mengharapkan surga dan pahala. Inilah ibadah para pedagang ilmu.
3. Melakukan perbuatan karena rasa malu di hadapan Allah Yang Maha Kuasa dan dukungan-Nya terhadap hak untuk berbakti dan bersyukur, sambil tetap menjaga hati yang takut, karena kita tidak tahu apakah perbuatan kita akan diterima atau tidak.
Inilah ibadah orang-orang merdeka, dan kepada ibadah inilah Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam merujuk ketika Aisyah, semoga Allah meridainya, berkata kepadanya ketika beliau berdiri hingga kakinya bengkak, lalu dikatakan kepadanya: Allah telah mengampuni dosa-dosamu di masa lalu dan masa depan, dan beliau menjawab: Bukankah seharusnya aku menjadi hamba yang bersyukur?

