MENJAUHKAN DIRI DARI MARAH

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْصِنِي، قَالَ: (لَا تَغْضَبْ، فَرَدَّدَ، قَالَ: لَا تَغْضَبْ). رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

Dari Abu Hurairah semoga Allah meridlai. Ada lelaki berkata kepada Nabi: _”Berilah aku wasiat.”_ Nabi berkata, _”Janganlah kamu marah.”_ Lalu Nabi mengulang, _”Jangan marah.”_ Diriwayatkan oleh Al-Bukhari.

📖 *Makna Kosa Kata*
• Marah: respon pada emosi, ditandai dengan kecenderungan untuk melawan. Yang mana membenci orang lain, dan memberontak padanya, dan wajib baginya membalasnya.

📚 *Penjelasan Hadis*

Allah _subhanahu wata’ala_ menciptakan Adam _’alaihissalam_ dari tanah yang beragam; ada yang putih, hitam, bagus, buruk, keras, dan lembut. Dari variasi ini, terbentuklah jiwa keturunan manusia dengan watak, karakter dan lapisan masyarakat yang berbeda-beda. Hal ini menunjukkan bahwa sesuatu yang baik bagi sebagian orang belum tentu baik bagi orang lain.

Dalam konteks ini, Nabi Muhammad _shallallahu ‘alaihi wasallam_ sangat hati-hati dalam memberikan wasiat kepada umatnya, agar petuah yang disampaikan sesuai dengan masing-masing individu, serta dapat memurnikan dan mensucikan jiwa mereka. Maka para Sahabat Rasul berlomba untuk mendapatkan petuah dari Rasul.

Salah satu contoh nyata adalah ketika Sahabat Abu Darda _radliyallahu ‘anhu_ datang dengan penuh kerinduan akan nasihat Rasulullah. Ia meminta wasiat yang dapat membawanya kepada kebaikan di dunia dan akhirat. Rasulullah SAW lalu mengulang satu nasihat kepadanya: _”Jangan marah.”_

Melalui kalimat yang singkat ini, Nabi mengisyaratkan betapa berbahayanya marah dan tercelanya perilaku ini. Marah juga sumber segala keburukan. Begitu banyak hubungan yang terputus karena amarah. Ketika marah, kasih sayang terputus, permusuhan berkobar, dan tindakan yang dilakukan dapat menimbulkan penyesalan yang mendalam di hari di mana penyesalan itu sudah tidak ada manfaatnya.

Marah adalah gejolak yang mendidih dalam hati, menimbulkan kegaduhan dalam jiwa, dan dapat terlihat dari wajah yang memerah serta mata yang berapi-api. Namun, setelah kemarahan mereda, keadaan seseorang akan kembali seperti semula, layaknya letusan gunung berapi yang menumpahkan lahar. Oleh karena itu, Nabi Muhammad SAW banyak berdoa:

_”Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk memberikan kata kebenaran saat marah dan dalam keadaan lapang.”_

Sesungguhnya, saat marah menguasai seseorang, ia akan terhalang dari kebenaran dan dari menerima kebenaran. Ulama salaf, seperti Ali bin Abi Thalib _radliyallahu ‘anhu_, menegaskan bahwa _”Permulaan marah itu gila, dan akhirnya adalah penyesalan.”_

Terkadang, kesalahpahaman dapat timbul akibat amarah yang tidak terkontrol. Sahabat Urwah bin Zubair _radliyallahu ‘anhu_ juga mengingatkan, “Dalam Al-Hikam tertulis: _”Wahai Daud, jauhilah marah. Sesungguhnya marah itu merusak hati seorang hakim.”_

Seorang bijak bestari menasihati anaknya, _”Wahai anakku, akal tidak akan berfungsi saat marah, seperti ruh tidak akan tinggal pada kobaran api. Maka, orang yang paling sedikit marahnya adalah orang yang paling berakal.”_

Dia juga mengatakan, _”Aku tidak berbicara apapun saat marah, karena ucapan saat marah sering kali menimbulkan penyesalan.”_

Allah memuji sifat hamba-Nya dalam firman-Nya: _“Orang-orang yang menafkahkan harta mereka, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarah dan memaafkan kesalahan.”_(QS. Ali ‘Imran: 134).

Ayat ini menunjukkan tiga tingkatan manusia:
1. Orang yang menahan amarahnya, mampu mengendalikan sesuai batasnya.
2. Orang yang memaafkan ketika orang lain berbuat salah padanya.
3. Hamba yang pasrah pada Tuhannya, berbuat baik meskipun ada keburukan dari orang lain.

Dengan demikian, muncullah pertanyaan penting: Apa yang harus dilakukan untuk meredam marah? Bagaimana cara mengendalikan amarah?

Syariat telah menjelaskan beberapa teks yang terangkum sebagai berikut:
1. Berlindung kepada Allah melalui doa, karena jiwa berada dalam kuasa-Nya. Beliau lah yang dapat membersihkannya. Allah berfirman, _”Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan.”_
2. Meminta perlindungan pada Allah dari setan, sebab setan sering mengobarkan kemarahan dalam hati. _”Jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah.”_
Rasulullah _shallallahu ‘alaihi wasallam_ pernah menjumpai dua laki-laki yang meminta penjelasan. Salah satunya wajanya memerah dan pembuluh daranya membengkak (terlihat sangat marah).

Rasulullah bersabda, _”Aku akan memberitahumu satu kata yang dapat menghilangkan amarahmu: _(Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan.)_ Maka amarahmu akan reda.
Orang yang marah sebaiknya memperbanyak zikir kepada Allah dan memohon ampun, karena itu dapat menenangkan hati dan menghilangkan amarah.
3. Menantikan balasan Allah yang Ia janjikan bagi orang yang menahan amarah, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Daud: _”Barangsiapa yang menahan marahnya, padahal ia mampu untuk meluapkannya, maka Allah akan menyerunya di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, sehingga ia berhak memilih bidadari yang ia sukai.”_
4. Menahan diri untuk tidak berbicara, dan mengubah posisinya misalnya, duduk jika berdiri saat marah, atau berbaring jika duduk. Nabi SAW bersabda, _”Jika salah satu dari kalian marah dalam keadaan berdiri, hendaklah ia duduk. Jika rasa marahnya belum hilang, maka berbaringlah.”_ (HR. Abu Daud)
5. Menjauhi segala hal yang dapat memicu amarah dan menjauhi berpikir tentang sesuatu yang dapat mengingatkannya kembali pada amarah.
6. Melatih diri untuk tetap tenang dalam menghadapi berbagai masalah, baik di dunia maupun di akhirat.

Author

Latest Post

Related Post