Bu Nyai Heny Maimoen Zubair Meninggal Dunia

Bu Nyai Heny Maimoen Zubair meninggal

KELUARGA BESAR SEKOLAH ISLAM SHAFTA

Turut berduka cita atas wafatnya

Hj Heny Maryam Maimoen Zubair

Istri KH. Maimoen Zubair, Sarang Rembang

~ Wafat Kamis, 01 September 2022 ~

Sedikit cerita tentang Almaghfurlah KH Maimoen Zubair dan Bu Nyai Hj Heny Maryam Maimoen

Bulan Juli 2022 ini merupakan Haul ketiga dari KH Maimoen Zubair, kami ambil dari web PP Al-Anwar Sarang Rembang, bebarengan dengan Haul dari Haul Ny. Hj. Fahimah (Istri dari KH. Maimoen Zubair) yang ke 10 dan KH. Majid Kamil (salah satu putra KH. Maimoen Zubair) yang ke-2. KH. Miftachul Akhyar (Rais ‘Aam PBNU), KH Mushtofa Bisri Rembang, KH. Abdul Qoyyum Mansur, KH. Zuhrul Anam, KH Jirjis Ali Maksum Krapyak-Jogjakarta, KH. Muhammad Faqih Langitan-Tuban, KH. Thoifur Ali Wafa Madura, Habib Abu Bakar Assegaf, Al-Habib Muhammad bin Ali Al-Haddad, juga datang dari luar Indonesia yaitu Syeich Zakariya Marzuq (Imam besar Masjid Universitas Al-Azhar Cairo-Mesir), dan masih banyak Kyai-kyai lainnya dari berbagai Pondok Pesantren alhamdulillah hadir dalam acara haul tahun ini. Bagi yang ingin menyaksikan siaran tunda via youtube bisa klik di sini.

Bu Nyai Hj Heny Maryam Maimoen sendiri adalah istri ketiga dari Almaghfurlah KH Maimoen Zubair (Kami ambil dari artikel di web, sigijateng.id). Berikut lengkapnya, Mbah Moen menikah pada usia 25 tahun, setelah menikah sosok yang dikenal sangat sederhana itu menjadi Kepala Pasar Sarang selama 10 tahun.  Mbah Moen  adalah insan yang lahir dari gesekan permata dan intan.    Dari ayahnya, Kiai Maimoen meneladani ketegasan dan keteguhan, sementara dari kakeknya meneladani rasa kasih sayang dan kedermawanan. Kasih sayang terkadang merontokkan ketegasan, rendah hati seringkali berseberangan dengan ketegasan.

Namun dalam pribadi Mbah Moen, semua itu selaras dan seimbang. Kerasnya kehidupan pesisir Kecamatan Sarang, Rembang tidak membuat sikap Mbah Moen ikut mengeras. Justru Mbah Moen menunjukkan sikap sebaliknya.    Kepada yang lebih muda Mbah Moen menunjukkan sikap yang sopan. Beliau adalah gambaran sempurna dari pribadi yang santun dan matang. Semua itu bukanlah kebetulan, sebab sejak dini beliau yang hidup dalam tradisi pesantren diasuh langsung oleh ayah dan kakeknya sendiri.

Kiai Maimoen muda membuktikan bahwa ilmu tidak harus menyulap pemiliknya menjadi tinggi hati ataupun ekslusif dibanding yang lainnya. Pada tahun 1965 Mbah Moen mengabdikan diri untuk berkhidmat pada ilmu-ilmu agama.   Hal itu diiringi dengan berdirinya Pesantren yang berada di sisi kediamannya. Pesantren yang sekarang dikenal dengan nama Al-Anwar. Satu dari sekian pesantren yang ada di Sarang. Keharuman nama dan kebesaran beliau sudah tidak bisa dibatasi lagi dengan peta geografis.

Banyak sudah ulama-ulama dan santri yang berhasil karena  ikut nyantri dalam pesantren yang kerap dikunjungi para pejabat di negeri ini.   Mbah Moen dianugerahi 10 putra dari tiga kali pernikahannya. Almarhum menikah tiga kali karena istri pertama dan keduannya meninggal dunia.

Istri pertama bernama Ibu Nyai Hj Fahima Baidhowi, yang merupakan putri dari KH Baidhowil Lasem Rembang. Dari pernikahannya ini mereka dikaruniai dua putra dan satu putri, masing-masing:   1. KH Abdullah Ubab (Gus Ubab) 2. KH Muhammad Najih (Gus Najih) 3. Ibu Nyai Hajah Shobihah (Neng Shobihah).

Dari istri kedua, yakni Ibu Nyai Hj Mastiah, Mbah Moen dikaruniai 6 putra dan satu putri, masing-masing:   1. KH Majid Kamil (Gus Kamil) 2. KH Abdul Goffur (Gus Ghofur)  3. KH Abdul Rouf (Gus Rouf)  4. KH Muhammad Wafi ( Gus Wafi ) 5. Ibu Nyai Hj Rodhiah (Neng Yah) 6. KH Taj Yasin (Gus Yasin) 7. KH Muhammad Idror (Gus Idror).

Setelah istri pertama dan kedua wafat lebih dulu, Mbah Moen kembali menikah dengan istri ketiganya yaitu Ibu Nyai Hj Heni Maryam putri dari salah satu ulama dari Kabupaten Kudus. Dari pernikahan ini tidak dikaruniayai keturunan. Dalam hal agama, 10 penerus KH Maimoen Zubair sangat mumpuni. Bersama dengan mereka Mbah Moen mengembangkan pondok pesantren  Al Anwar 1, 2,3 dan 4. Pondok Pesantren 1 di asuh KH Maimoen Zubair sendiri sampai dengan sekarang. Pesantren ini berlokasi di Desa Karang Mangu, Kecamatan Sarang.

Sedangkan Pondok Pesantren Al Anwar 2, 3, dan 4 lokasinya berada di Dukuh Gondangrejo Desa Kalipang Kecamatang Sarang. Lokasinya berjarak sekitar 5 KM dari Ponpes Al Anwar 1 (Induk).   Yang membedakan pesantren ke empatnya adalah : Al-Anwar 1 murni pendidikan salaf, diasuh oleh KH Maimoen Zubair.  Al-Anwar 2 ada pendidikan salaf dan formal, ada MI, MTs, yang dikelola KH Abdullah Ubab. Berdiri sekitar tahun 2003. Al-Anwar 3 khusus untuk Sekolah Tinggi STAI yang diasuh oleh KH Abdul Ghofur sebagai rektornya.

Al-Anwar 4 itu untuk SMK Al-Anwar yang diasuh oleh KH Taj Yasin, Wakil Gubernur Jawa Tengah berdiri pada tahun 2016. Di Pesantren Al-Anwar juga terdapat pendidikan Ma’had Aly. Semacam program pendidikan khusus salaf yang disetarakan S1. Program tersebut berjalan sejak tahun 2005 sampai dengan sekarang.   Saat ini ada sekitar 10 ribu santriwan-santriwati yang masih mondok di empat Pondok Pesantren. Sepeninggal Mbah Moen para santri diasuh oleh putra-putra Mbah Moen, sedangkan santri putri diasuh oleh Ibu Nyai Hj Heni Maryam, dan dibantu menantu-menantunya.

Kedelapan putra Mbah Moen semuanya diminta menetap di Sarang Rembang, untuk meneruskan mengelola pondok yang terus mengalami kemajuan. Kecuali kedua putrinya. Ibu Nyai Hj Shobihah (Neng Shobihah) di Cirebon menikah dengan KH Musthofa Aqil Siroj adik dari Ketua Umum Tanfidziyah PBNU KH Said Aqil Siroj, sedangkan Neng Diyah menjadi istri dari KH Zairul Anam (Gus Anam) Banyumas, Jawa Tengah.

Perjalanan hidup Mbah Moen ini disarikan dari cerita KH Zainul Umam (Gus Umam). Gus Umam termasuk orang dekat keluarga KH Maimoen Zubair. Dia juga pernah mondok selama 9 tahun di Ponpes Al-Anwar dan menjadi santri Mbah Moen sejak tahun 1997 – 2006.    Gus Umam adalah orang yang sering mendampingi Mbah Moen ketika bepergian. Terakhir ia mendampingi Mbah Moen ke Bandara Soekarno Hatta saat pergi ke tanah suci untuk berhaji sebelum wafat. ( shafta/ahm)