Pandangan Puji-pujian , tahlilan, istigosah dan yasinan sebagai media pendekatan diri kepada Allah SWT

Pandangan Puji-pujian , tahlilan, istigosah dan yasinan sebagai media pendekatan diri kepada Allah SWT 

 

By : Kholib Samporno,SE.,MM.

 

Dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat kampungku, tepatnya di kampung Lontar Kelurahan Lontar Kecamatan Sambikerep Kota Surabaya sering sekali saya jumpai beberapa kegiatan yang setiap kali dilaksanakan di kampung Lontar, mulai dari hari Minggu sampai minggu lagi sering terdengar kegiatan keagamaan di masyarakat disamping melaksanakan ibadah sholat berjamaah di musholah dan masjid. Kampung Lontar terdiri dari dua Rukun Warga (RW) yaitu RW 1 dan RW 2, terdiri dari 10 Rukun Tetangga (RT), di setiap Rukun Tetangga terdapat satu mushollah bahkan ada yang terdiri satu rukun tetangga ada dua musholah yang dilakukan dengan berjamaah di musholla dan di masjid, warga lontar juga mengadakan kegiatan-kegiatan keagamaan lainnya seperti majelis dzikir seperti pengajian setalah sholat asyar, setelah solat subuh yang saya temui di mushollah dan di masjid, selain itu juga sering saya jumpai kegiatan keagamaan lainnya seperti istigotsyah, tahlilan, yasinan yang diadakan di setiap rumah-rumah warga, kegiatan istigosyah, tahlilan dan yasinan ini dikoordinir oleh jamaah mushollah masing-masing dimana kegiatan tersebut dilakukan satu kali dalam seminggu, sehingga sering saya jumpai hari minggu sampai dengan hari minggu terdengar oleh telinga kita adanya kegiatan tersebut. Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh jamaah bapak/bapak dan jamaah ibu-ibu. Disamping kegiatan istigotsyah, tahlilan dan yasinan juga di laksankan kegiatan jamiyah diba’ atau sholawat nabi, kegiatan jamiah diba’ atau sholawat nabi dilaksanakan oleh ibu-ibu dan remaja musholla dan remaja masjid di wilayah Lontar, dilaksanakan di rumah-rumah masing-masing jamaah serta terkadang dilaksanakan di mushollah atau masjid sekitar. Kegiatan keagamaan tersebut pada dasarnya untuk membangun silaturahim bagi para jamaah serta dapat meningkatkan taqwa kita kepada Allah SWT serta sebagai penentram jiwa.

Kegiatan tersebut dijumpai di kapungku karena sebagian besar masyarakatnya bergolongan Aswaja ( ahlusunnah Wal Jama’ah). Bagaimana pandangan Ahlusunnah wal jama’ah menanggapi kegiatan tersebut diatas, disini akan saya paparkan tentang seputar kegiatan di kampung saya yang saya temui misalnya dzikir dan syair sebelum melaksanakan sholat biasanya saya menyebutnya dengan nama Pujian, mengeraskan dzikir, qunut sholat subuh, dzikir secara berjamaah (Istigotsah dan tahlilan). 

Pertama, Membaca dzikir dan syair sebelum melaksanakan sholat berjamaah adalah perbuatan yang baik dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam karena membaca syair di dalam masjid bukan merupakan sesuatu yang dilarang oleh agama. Pada masa Rasulullah SAW, para sahabat juga membaca syair di dalam masjid juga, disamping itu juga dengan membaca syair juga menanamkan akidah umat jika dipandang dari segi siar agama. Dengan membaca syair merupakan strategi yang tepat untuk menyebarkan ajaran agama Islam di tengah-tengah masyarakat, karena dalam syair itu juga terdapat kandungan beberapa pujian kepada Allah SWT, adanya dzikir serta nasehat. Dengan membaca syair sebelum sholat berjamaah dengan lantunan syair yang indah akan dapat menambah semangat dan mengkondisikan suasana. Dalam hal ini, tradisi yang sering dilaksanakan di kampungku sudah berjalan sejak dulu dan dapat menjadi kegiatan rutinitas persiapan sebelum melaksanakan sholat lima waktu. Disamping itu juga manfaat lain dari membaca syair adalah sambil menunggu jamaah yang lain untuk melaksanakan sholat jama’ah dan agar para jamaah tidak membicarakan hal-hal yang tidak perlu untuk dibicarakan saat menunggu sholat jama’ah dilaksanakan. Dengan beberapa alasan tersebut maka membaca dzikir, nasehat, puji-pujian yang dilaksanakan secara bersama-sama di masjid atau mushollah adalah amaliah yang baik dan dianjurkan asalkan tidak mengganggu orang lain sedang melaksanakan sholat. 

Kedua, membaca dzikir, tahlilan dan istigotsyah yang dibaca dengan bersama-sama sehabis menunaikan sholat maupun dalam momen-momen tertentu seperti istigotsyah dan lain-lain adalah merupakan perbuatan yang tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam. Bahkan termasuk perbuatan yang dituntun oleh agama Islam. Banyak kita jumpai ayat-ayat al-Qur’an yang menunjuk terhadap dzikir secara berjamaah misalnya pada Surat al-Baqoroh ayat 152, Firman Allah  

“Ingatlah (berdzikir) kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu”.

Allah SW. juga berfirman pada surat al-Ahzab ayat 41-42. “Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya, dan bertasbilah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang”.

Ketiga, membaca sholawat nabi atau pembacaan maulid diba’ atau memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Membaca sholawat kepada Nabi Muhammad SAW merupakan ibadah yang sangat terpuji. Allah SWT berfirman dalam Surat al-Ahzab ayat 56; “Sesungguhnya Allah SWT dan para malaikat-Nya membaca sholawat kepada Nabi. wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kalian membaca sholawat disertai salam kepadanya”. Dengan melihat ayat tersebut, jelas sekali ayat ini menyuruh umat Islam untuk membaca sholawat kepada Nabi Muhammad di manapun dan kapanpun saja. Dengan tujuan utama adalah untuk mengungkapkan sekaligus mengharapkan barokah dari Nabi Muhammad SAW. 

Dari keterangan diatas dapat saya simpulkan bahwa kegiatan puji-pujian atau membaca syair sebelum melaksanakan sholat lima waktu secara berjamaah, dzikir bersama-sama misalnya tahlilan, istigotsyah dan yasinan adalah kegiatan yang tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam dan bahwa merupakan tuntunan agama Islam. Dengan kegiatan tersebut diatas maka kita akan dapat meningkatkan kualitas keimanan kita, serta menjalin silaturahim antar umat islam di masyarakat tersebut dan juga dengan kegiatan tersebut maka dapat menentramkan jiwa kita khususnya di kalangan Aswaja (Ahlussunnah Wal-Jama’ah). Dalam sekolah kami, Sekolah Islam Shafta juga kami laksanakan  kegiatan-kegiatan tersebut diatas saat bersama dengan siswa dan juga saat bersama dengan guru-guru yang lainnya, Semoga bermanfaat…

 

Referensi :

Hujjah NU Akidan-AMaliah-Tradisi, KH. Muhyiddin Abdusshomad, 2008

 

Author

Latest Post

Jazz

Related Post

Jazz