Kerajaan Mataram Kuno terletak di Jawa Tengah. Nama Mataram diambil dari istilah Bhumi Mataram, artinya daerah yang dikelilingi oleh gunung-gunung. Di sebelah utara terdapat Gunung Sindoro, di sebelah timur terdapat Gunung Lawu, di sebelah selatan terdapat Pegunungan Seribu, serta di sebelah barat terdapat Gunung Merapi, Gunung Merbabu, dan Gunung Serayu. Daerah ini juga dialiri banyak sungai, seperti Sungai Bengawan Solo, Sungai Progo, Sungai Elo, dan Sungai Bengawan Solo.
Pusat Kerajaan Mataram Kuno pada awal berdirinya diperkirakan terletak di daerah Mataram (dekat Yogyakarta). Kemudian pada masa pemerintahan Rakai Pikatan dipindah ke Mamrati (daerah Kedu). Lalu, pada masa Dyah Balitung sudah pindah lagi ke Poh Pitu (masih di sekitar Kedu). Kemudian pada zaman Dyah Wawa diperkirakan kembali ke daerah Mataram. Mpu Sindok kemudian memindahkan istana Medang ke wilayah Jawa Timur sekarang.
Kehidupan politik Kerajaan Mataram Kuno
Kerajaan mataram dikenal sebagai kerajaan yang toleran dalam beragama. Sebab, di Kerajaan Mataram Kuno berkembang agama Buddha dan Hindu. Kerajaan ini dipimpin dua dinasti, yaitu Dinasti Sanjaya yang beragama Hindu, serta Dinasti Syailendra beragama Buddha.
Tahun 778-865 disebut sebagai pemerintahan selingan, karena dua dinasti tersebut silih berganti kuasa. Dinasti Sanjaya mengembangkan kerajaan Mataram lama di Jawa Tengah bagian utara, sedangkan Dinasti Syailendra mengembangkan kerajaan Mataram lama di Jawa Tengah bagian Selatan. Puncak kecayaan Dinasti Sanjaya pada masa pemerintahan Raja Dyah Balitung yang menguasai Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Kehidupan ekonomi Kerajaan Mataram Kuno
Letak Kerajaan Mataram Kuno mengandalkan sektor agraris daripada perdagangan, karena transportasi dari pesisir ke pedalaman sulit dilakukan karena keadaan sungainya. Seiring berkembangnya waktu, Raja Dyah Balitung dalam Prasasti Purworejo (900 M) memerintahkan pendirian pusat-pusat perdagangan dengan tujuan menarik para pedagang dari daerah lain untuk berdagang di Mataram. Untuk mendukung hal tersebut, dibuatlah Prasasti Wonogiri (903 M) yang berisi dibebaskannya desa-desa di pinggiran Sungai Bengawan Solo apabila mampu menjamin kelancaran lalu lintas di Sungai tersebut.
Kehidupan sosial budaya Kerajaan Mataram Kuno
Struktur sosial masyarakat Mataram Kuno tidak begitu ketat, seseorang dengan Kasta Brahmana, Kasta Ksatria, Kasta Waisya, dan Kasta Sudra dapat berubah-ubah tingkatannya karena percaya bahwa dunia manusia sangat dipengaruhi oleh alam semesta (sistem kosmologi).
Dalam bidang budaya, Mataram Kuno menghasilkan karya berupa Candi Borobudhur, Candi Prambanan, Candi Arjuna, Candi Bima, dan sebagainya.
Kepercayaan Kerajaan Mataram Kuno
Pada masa pemerintahan Rakai Pikatan banyak didirikan candi yang bercorak Hindu dan Buddha. Pernikahannya dengan Pramodhawardhani tidak membuat Rakai Pikatan pindah agama ke Buddha. Mereka berdua mendirikan candi sesuai dengan kepercayaan masing-masing.
Runtuhnya Kerajaan Mataram Kuno
Hancurnya Kerajaan Mataram Kuno dipicu permusuhan antara Jawa dan Sumatra yang dimulai saat pengusiran Balaputradewa (Raka Sriwijaya) oleh Rakai Pikatan. Perselisihan ini turun-temurun pada generasi berikutnya. Medang dan Sriwijaya juga bersaing untuk menguasai lalu lintas perdagangan Asia Tenggara. Sewaktu Mpu Sindok memulai periode di Jawa Timur, pasukan Sriwijaya menyerangnya, akan tetapi dimenangkan oleh Mpu Sindok.
Runtuhnya Kerajaan Mataram ketika cicit Mpu Sindok yaitu Raja Dharmawangsa sedang memimpin Kerajaan. Tercatat Sriwijaya pernah menggempur Mataram Kuno dan dimenangkan oleh Dharmawangsa. Dharmawangsa juga pernah melakukan serangan ke Sriwijaya. Sayangnya, pada tahun 1006 ketika Dharmawangsa lengah karena sedang mengadakan pesta perkawinan putrinya, istana Medang diserang oleh Aji Wurawari dan Lwaram yang mengakibatkan Dharmawangsa tewas.
Untuk pemahaman lebih lanjut terkait bagaimana perbedaan dalam bidang budaya antara agama Hindu dan Buddha, yuk simak vidio berikut!









