KLASIFIKASI DAN KERGAMAN SUMBER SEJARAH

Mengenal Sumber Sejarah: Jejak Penjelajah Waktu

Pernahkah kalian berpikir, bagaimana para sejarawan bisa tahu detail peristiwa yang terjadi puluhan, ratusan, bahkan ribuan tahun yang lalu? Padahal, sejarawan kan tidak punya mesin waktu untuk balik ke masa depan atau masa lalu! Nah, rahasianya terletak pada sumber sejarah. Dalam sejarah, sumber sejarah itu ibarat “petunjuk atau bukti TKP” bagi seorang detektif. Tanpa adanya sumber, cerita masa lalu hanyalah mitos atau dongeng belaka.

Untuk memudahkan kita mempelajarinya, sumber sejarah ini dibagi berdasarkan beberapa klasifikasi:

  1. Berdasarkan Sifatnya (Asal-Usul Informasi)

Ibarat berita, informasi bisa datang dari tangan pertama atau dari mulut ke mulut.

  • Sumber Primer (Tangan Pertama): Ini adalah bukti paling otentik karena dibuat langsung oleh orang yang mengalami atau menyaksikan kejadian tersebut pada zamannya. Contohnya seperti teks asli Proklamasi yang ditulis Bung Karno, diari pribadi tokoh, candi, hingga dokumen resmi pemerintah.
  • Sumber Sekunder (Tangan Kedua): Sumber ini berasal dari hasil olahan atau kajian orang lain terhadap sumber primer. Contoh yang paling dekat dengan kalian adalah buku paket Sejarah SMA, buku biografi, atau artikel jurnal penelitian.
  • Sumber Tersier: Rangkuman dari berbagai sumber sekunder yang memberikan gambaran umum, seperti ensiklopedia atau kamus sejarah.
  1. Berdasarkan Bentuk/Wujud Fisiknya

Bukti sejarah tidak cuma berbentuk tulisan, tetapi bisa beraneka ragam bentuknya:

  • Sumber Tertulis: Segala bentuk peninggalan yang memuat tulisan, seperti prasasti kuno, surat kabar zamannya, hingga naskah kuno.
  • Sumber Lisan: Kesaksian langsung yang diucapkan oleh para pelaku atau saksi sejarah melalui wawancara. Contohnya jika kalian mewawancarai seorang veteran Perang Surabaya 1945.
  • Sumber Benda (Artefak): Peninggalan fisik atau benda-benda peninggalan manusia purba/kuno, seperti Candi Borobudur, patung, mata uang kuno, atau kapak perunggu.
  • Sumber Audio-Visual: Rekaman nyata berbentuk gambar, foto, rekaman suara, atau video dokumenter masa lalu, seperti foto pembacaan Proklamasi atau suara pidato Bung Tomo.
  1. Fakta Sejarah dan Ilmu Bantu

Perlu diingat, sumber sejarah yang ditemukan tidak bisa langsung dipercaya begitu saja. Sejarawan harus menguji dan menelitinya terlebih dahulu sampai berubah menjadi Fakta Sejarah (baik fakta keras yang sudah pasti benarnya, maupun fakta lunak yang masih diperdebatkan).

Dalam meneliti benda-benda kuno tersebut, sejarawan juga dibantu oleh berbagai cabang ilmu pendukung. Misalnya Filologi (ilmu membaca naskah kuno), Epigrafi (ilmu membaca prasasti), Numismatik (ilmu mempelajari mata uang kuno), dan Arkeologi (ilmu yang meneliti benda-benda purbakala).

Dengan memahami sumber-sumber ini, kalian tidak hanya belajar menghafal sejarah, tetapi juga belajar menjadi “detektif masa lalu” yang kritis dan bijak dalam menyaring informasi!

Untuk rangkuman materi silahkan unduh disini!

 

Referensi bacaan: 

Abd Rahim, M. U., & Alias, M. S. (2024). Klasifikasi Sumber Sejarah: Signifikannya dalam Falsafah Sejarah [Classification of Historical Sources: Its Significance in the Philosophy of History]. BITARA International Journal of Civilizational Studies and Human Sciences (e-ISSN: 2600-9080)7(3), 125-137.

Herlina, N. (2020). Metode sejarah.

Maimunah, S. (2026). KERAGAMAN SUMBER SEJARAH.

Randa, Z. (2026). BAB 6 SUMBER-SUMBER SEJARAH DAN KRITIK SUMBER. Pengantar Ilmu Sejarah: Bagi Pendidikan Sejarah, 123.