Tradisi, Tafa’ul, dan Makna di Balik Secangkir Susu

Tradisi, Tafa'ul, dan Makna di Balik Secangkir Susu

Tradisi, Tafa’ul, dan Makna di Balik Secangkir Susu. Setiap memasuki awal tahun baru Hijriah, sebuah tradisi unik kerap ramai diperbincangkan di media sosial yakni minum susu. Tak sedikit yang langsung bereaksi keras, menyebutnya sebagai bid’ah, sesat, atau amalan tanpa dalil. Namun tak sedikit pula yang justru antusias bertanya, “Susu apa, Ustadz? Susu Beruang atau susu SGM? Rasa vanilla, coklat, atau rasa cintaku padamu?”

Pertanyaannya, dari mana sesungguhnya tradisi ini berasal dan apa maknanya? Apakah ia bid’ah yang harus dihindari, ataukah bagian dari kekayaan budaya Islam yang justru layak dipahami dan dilestarikan Hal pertama yang perlu dipahami dengan jelas adalah minum susu di awal tahun baru Islam adalah tradisi, bukan ibadah, bukan kewajiban, dan bukan pula kesunnahan yang secara khusus pernah diperintahkan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW.

Sebagai tradisi, ia masuk dalam kaidah fikih yang sangat populer di kalangan ulama:

إِفْعَلْ مَا تَشَاءُ مَالَمْ تُخَالِفِ الشَّرْعَ

“Lakukan tradisi apa pun, selama tidak bertentangan dengan ajaran syariat”

Minum susu tentu tidak bertentangan dengan syariat Islam sedikit pun. Oleh karena itu, tidak perlu ditanyakan dalil khususnya, sebagaimana kita tidak pernah menanyakan dalil orang yang memberi nama tokonya ‘Sumber Rezeki’ dengan harapan rezekinya mengalir lancar. Inti dari tradisi minum susu di awal tahun baru adalah apa yang dalam istilah Islam disebut Al-Fa’lul Hasan berprasangka baik, positive thinking, atau mengirimkan harapan-harapan baik kepada Allah SWT.

Baginda Nabi Muhammad SAW sangat menyukai Al-Fa’lul Hasan dalam berbagai urusan hidupnya. Beliau mengajarkan umatnya untuk memberi anak nama yang baik, dengan harapan anak tersebut akan tumbuh menjadi pribadi yang sesuai dengan arti namanya. Bahkan Nabi SAW seringkali mengubah nama para sahabat yang dinilai memiliki makna kurang baik. Beliau juga sangat menyukai hal-hal yang berhubungan dengan sisi kanan, seperti makan dengan tangan kanan dan masuk masjid dengan kaki kanan. Seorang ulama mengomentari kebiasaan ini dengan menyebut bahwa Rasulullah SAW berharap orang yang melakukan hal tersebut akan menjadi golongan kanan yang selamat kelak “ashabul maymanah”.

Demikian pula, para ulama menganjurkan daging aqiqah dimasak dengan cita rasa manis, dengan harapan agar akhlak anak yang diaqiqahi juga akan menjadi baik dan manis. Inilah logika Al-Fa’lul Hasan: sebuah doa yang diungkapkan melalui tindakan nyata. Minum susu di awal tahun, di sini, bermakna harapan agar hari-hari setahun ke depan menjadi seputih, semurni, dan semanis susu. Tidak lebih dari itu dan itulah yang membuatnya indah.

Bolehkah kita minum Marimas, Cendol Dawet, atau minuman lain sebagai ganti susu? Jawabannya boleh. Tidak ada kewajiban bahwa harus susu, atau harus merek tertentu, atau harus rasa tertentu. Kamu mau minum Marimas dengan harapan tahunmu semanis Marimas? Silakan. Cendol Dawet dengan harapan tahunmu semanis cendol? Juga boleh. Namun alasan mengapa para ulama dan kiai banyak yang secara khusus menganjurkan susu. Susu adalah minuman yang dicintai Rasulullah SAW.

أَحَبُّ الشَّرَابِ إِلَى رَسُولِ اللهِ اللَّبَنُ

“Minuman yang paling dicintai Rasulullah SAW adalah susu”

Maka dengan minum susu, ada rindu yang tersembunyi kepada Sang Nabi, sebuah perasaan yang indah dan dalam. Seperti yang pernah dituliskan oleh Syarifah Halimah Alaydrus: “Wahai Rasulullah… dalam secangkir susu, aku dan engkau bertemu.” Sebagian orang berpendapat bahwa minum susu di tahun baru hanyalah tradisi lokal Indonesia yang tidak ada asal-usulnya. Faktanya, tradisi ini justru juga hidup di negara-negara Arab, bahkan di Makkah dan Madinah.

Radina Hasyim, seorang penulis asal Madinah, pernah menulis sebuah artikel yang mengungkapkan bahwa penduduk Madinah menyambut tahun baru Hijriah dengan meminum susu yang dihidangkan bersama mawar, kacang, dan daun mint, sebuah perayaan tahunan yang sangat digemari. Mereka melakukannya sebagai bentuk tafa’ul (berharap baik) dan bergembira menyambut tahun baru. Surat kabar Arab Saudi “Okaz” bahkan pernah memuat artikel tentang minuman tradisional bernama Al-Mulawaz, minuman khas penduduk Hijaz yang terbuat dari susu, kacang almond, dan kapulaga, yang secara turun-temurun dihidangkan untuk menyambut tahun baru Hijriah.

Di Makkah Al-Mukarramah, surat kabar Arriyadh melaporkan bahwa ada tradisi minum susu di pagi hari pertama tahun baru. Para ibu-ibu memanaskan susu dengan harapan agar tahun yang baru menjadi putih bersih, juga menghidangkan bawang prei dan sayuran hijau dengan harapan tahun yang baru menjadi ‘hijau’ subur dan penuh keberkahan. Seorang penduduk asli Madinah bernama Abu Awwab bahkan menceritakan pengalamannya: sejak kecil ia menyaksikan ayahnya membeli susu, mawar Madinah, dan kacang setiap pagi hari tahun baru. Menu ‘wajib’ saat itu adalah susu hangat, keju putih, dan roti. Tradisi itu terus dijaga bahkan setelah sang ayah wafat, sebagai bentuk harapan agar tahun baru membawa kebaikan bagi semua.

Para ulama Islam dari zaman ke zaman tidak pernah mempermasalahkan tradisi ini. Bahkan di antara mereka ada yang dengan sengaja melestarikannya. Salah satu ulama besar abad ini yang dikenal turut menjaga tradisi minum susu di awal tahun baru adalah Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki yakni seorang tokoh ulama dunia yang disegani. Ini membuktikan bahwa tradisi ini bukanlah sesuatu yang asing atau menyimpang dalam Islam, melainkan bagian dari ekspresi budaya umat Islam yang mengandung nilai tafa’ul dan kecintaan kepada Rasulullah SAW.

Pada akhirnya, minum susu di tahun baru Islam adalah sebuah tradisi dan budaya yang membawa harapan baik agar tahun yang akan datang menjadi seputih susu, semurni susu, dan semanis senyumanmu. Yang mau melakukannya, silakan. Yang tidak melakukannya, juga tidak apa-apa. Ini bukan ibadah wajib atau kewajiban agama. Yang jauh lebih penting dari sekadar minum susu adalah bagaimana kita mengawali dan merayakan tahun baru ini dengan kebaikan-kebaikan nyata: niat yang tulus, tekad yang kuat untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya, serta komitmen untuk semakin dekat kepada Allah SWT. Seperti yang dikatakan Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA:

اَلْيَوْمُ عِيدٌ وَالْبُكْرَةُ عِيدٌ وَكُلُّ يَوْمٍ لَا نَعْصِي اللهَ تَعَالَى فِيهِ فَهُوَ عِيدٌ

“Hari ini adalah hari raya, esok adalah hari raya, dan setiap hari di mana kita tidak bermaksiat kepada Allah di dalamnya adalah hari raya.”

Selamat Tahun Baru Islam 1447 H. Semoga menjadi tahun yang lebih baik, lebih berkah, dan lebih bermakna untuk kita semua. Momentum tahun baru Hijriah adalah waktu terbaik untuk memulai perjalanan baru termasuk memilih lingkungan pendidikan yang tepat untuk putra-putri kita. Jika Anda ingin anak tumbuh dalam suasana akademis yang unggul sekaligus terbingkai nilai-nilai Islam yang kuat, Sekolah Islam SHAFTA Surabaya adalah jawabannya.

Bergabunglah bersama ribuan keluarga yang telah mempercayakan pendidikan putra-putrinya kepada Sekolah Islam SHAFTA sekolah yang mengintegrasikan keunggulan akademik, pembentukan karakter Islami, dan hafalan Al-Qur’an dalam satu ekosistem pendidikan yang terpadu.

🏫  SMP SHAFTA  |  SMA SHAFTA  |  Pondok Pesantren SHAFTA

Jadikan Tahun Baru Hijriah ini sebagai langkah awal perubahan terbaik.

Daftarkan putra-putri Anda sekarang!

📍 Surabaya, Jawa Timur  |  Informasi: Hubungi Bagian Humas Sekolah Islam SHAFTA

Bersama SHAFTA, Wujudkan Generasi Qur’ani yang Berprestasi

Author

Latest Post

Related Post