Historiografi Tradisional: Narasi Raja dan Kekuasaan
Historiografi Tradisional merujuk pada penulisan sejarah yang berkembang di Nusantara pada masa kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha hingga masa Islam, sebelum masuknya pengaruh kolonial yang kuat. Karya-karya sejarah ini, seperti babad, hikayat, dan serat, memiliki ciri khas yang sangat berbeda dengan penulisan sejarah modern.
Ciri Utama dan Fokus
Fokus utama historiografi tradisional adalah pada kisah raja, keturunan bangsawan, dan pusat kekuasaan (istana).
- Istana Sentris (Istana-Sentrisme): Penulisan sejarah selalu berpusat pada kehidupan dan kepentingan raja, keluarga kerajaan, serta lingkungan istana. Peran rakyat jelata di luar istana seringkali diabaikan atau hanya menjadi latar belakang.
- Genealogi: Narasi sangat mementingkan silsilah dan garis keturunan raja, berfungsi untuk melegitimasi kekuasaan penguasa yang sedang memerintah.
- Religio-Magis: Kisah sejarah seringkali disisipi unsur-unsur supranatural, mitos, dan kepercayaan agama. Tujuannya adalah untuk menguatkan wibawa raja, yang sering dianggap sebagai titisan dewa atau memiliki kekuatan magis.
- Subjektivitas Tinggi: Penulisan ini sangat subjektif karena fungsinya bukan untuk mencari kebenaran fakta, melainkan untuk melayani kepentingan penguasa dan memperkuat mitos kekuasaan mereka. Kronologi waktu seringkali tidak tersusun secara ketat dan akurat.
Meskipun historiografi tradisional tidak memenuhi standar ilmiah modern, karya-karya ini tetap menjadi sumber penting untuk memahami aspek-aspek kebudayaan, struktur sosial, dan pandangan dunia masyarakat kerajaan di masa lalu.
Untuk studi lebih lanjut mengenai sumber sejarah tradisional, Anda dapat merujuk ke link berikut:













