PRAKTIK BAIK BIOTEKNOLOGI KONVENSIONAL

Hallo, Kids!

Sudahkah kalian pernah mendengar istilah “Bioteknologi” ?

Coba kita perhatikan, jika dilihat dari asal katanya yaitu Bio yang artinya makhluk hidup, dan Teknologi yang artinya penerapan pengetahuan untuk menyediakan kebutuhan manusia, maka “Bioteknologi” dapat didefinisikan sebagai Teknologi yang memanfaatkan makhluk hidup baik sebagian atau keseluruhan untuk menghasilkan barang atau jasa yang dapat digunakan oleh manusia.

Penerapan ilmu Bioteknologi bisa digunakan dalam berbagai aspek kehidupan loh! Salah satunya untuk bidang pangan. Tapii, apakah proses pembuatan makanan-makanan ini wajib membutuhkan alat yang canggih dan modern?? Tidak yaa, contohnya proses pembuatan tape dan tempe yang merupakan contoh produk  bioteknologi konvensional (tradisional, sederhana) yang sudah kita lakukan untuk pembelajaran bermakna di kelas KIR.

Prinsip bioteknologi konvensional sederhana menggunakan teknik fermentasi, memerlukan bantuan mikroorganisme secara langsung dan utuh. Saccharomyces cerevisiae digunakan untuk fermentasi pembuatan tape. Rhizopus sp. merupakan mikroorganisme yang digunakan untuk pembuatan tempe. Kedua agen mikrobiologi tersebut termasuk dalam kelompok jamur/fungi. Tahapan pembuatan tape dan tempe harus dilakukan dengan baik agar dapat diperoleh kualitas tape dan tempe yang baik pula.

Hasil kegiatan praktik pembuatan tape dan tempe minggu lalu coba kita bahas sedikit disini sebagai refleksi yukk!

Kedelai yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan tempe, setelah direbus seharusnya ditiriskan hingga benar-benar kering, apabila kurang ditiriskan dengan baik maka biji kedelai akan terlalu basah, kondisi seperti ini bisa menyebabkan jamur dari ragi tempe tidak memunculkan hifa (benang-benang berwarna putih) sehingga kedelai membusuk akibatnya tempe tidak berhasil dibuat.

Dokumentasi pribadi : Hasil praktikum KIR kelas 7

Coba deh perhatikan kedelai pada gambar di atas! Apa yang terjadi? Terlihat ada titik-titik air di dalam plastik yaa? Nahhh, kedelai pada gambar tersebut kondisinya basah sehingga Hifa jamur tidak terbentuk dan kedelainya mengeluarkan aroma tidak sedap karena busuk.

Dokumentasi pribadi : Hasil praktikum KIR kelas 7

Coba bandingkan gambar pertama tadi dengan gambar kedua ini, apa ada perbedaan?? Ada yaaa, betul sekali, di gambar kedua ini tampak Hifa putih muncul menutupi kedelai, karena sebelum diberi ragi biji kedelainya sudah ditiriskan hingga benar-benar kering. Kedelai tidak mengeluarkan aroma busuk melainkan tercium aroma khas dari tempe yang berhasil dibuat.

 

Jadi bagaimana? dari penjelasan di atas, sudah paham yaa alasan kenapa tempe yang sudah dibuat menghasilkan bentuk fisik yang berbeda?

Semoga tulisan di atas bisa menambah wawasan dan bermanfaat untuk kita semua, aamiin.