METODE PENELITIAN SEJARAH

Meneliti peristiwa masa lalu pada dasarnya mirip seperti kerja seorang detektif yang sedang memecahkan sebuah kasus. Agar rekonstruksi sejarah yang dihasilkan akurat dan diakui secara ilmiah, Prof. Kuntowijoyo merumuskan empat tahapan utama dalam penelitian sejarah yang dirancang secara runtut dan saling berkaitan.

Tahapan pertama yang wajib dilakukan seorang peneliti adalah Pemilihan Topik. Sebelum berburu data, peneliti harus menentukan fokus peristiwa sejarah apa yang ingin diteliti. Menurut Kuntowijoyo, penentuan topik ini membutuhkan dua pertimbangan utama, yaitu kedekatan emosional dan kedekatan intelektual. Kedekatan emosional berarti peneliti harus menyukai atau tertarik pada topik tersebut agar memiliki semangat, ketekunan, dan tidak mudah menyerah selama proses penelitian. Sementara itu, kedekatan intelektual berarti peneliti sudah memiliki wawasan dasar, paham teori pendukung, serta menguasai bahasa atau ilmu bantu yang relevan dengan topik. Selain dua pertimbangan tersebut, topik yang baik juga harus memenuhi syarat orisinalitas (bukan hasil jiplakan), bernilai sejarah (memiliki dampak penting bagi masyarakat), bersifat praktis (sumber dan datanya mudah diakses), serta mampu merajut jawaban atas pertanyaan dasar 5W + 1H, yaitu what (apa), where (di mana), when (kapan), why (mengapa), who (siapa), dan how (bagaimana).

 

  1. Heuristik (Pengumpulan Sumber Sejarah)

Setelah menentukan topik, peneliti melangkah ke tahap kedua, yaitu Heuristik atau pengumpulan sumber sejarah. Istilah heuristik berasal dari bahasa Yunani heuriskein yang berarti “menemukan”. Pada tahap ini, peneliti bekerja seperti detektif yang berburu bukti untuk mengumpulkan semua jejak, data, dan sumber sejarah yang tersebar. Sumber yang dicari mencakup empat jenis utama:

  • sumber tertulis seperti arsip resmi pemerintah, koran tua, buku harian, naskah kuno, dan nota;
  • sumber lisan berupa hasil wawancara langsung dengan pelaku atau saksi peristiwa (oral history) serta cerita rakyat atau tradisi lisan (oral tradition);
  • sumber benda atau artefak seperti candi, prasasti, benteng, monumen, hingga senjata antik;
  • serta sumber kuantitatif berupa data angka, statistik kependudukan, grafik, dan laporan keuangan masa lalu.

 

  1. Verifikasi / Kritik Sejarah

Seluruh data yang telah terkumpul kemudian diuji pada tahap ketiga, yaitu Verifikasi atau Kritik Sejarah. Tahap ini bertujuan menyaring semua sumber agar peneliti terhindar dari berita bohong (hoax) atau dokumen palsu. Pengujian ini terbagi menjadi dua aspek, yakni kritik eksternal dan kritik internal.

  • Kritik eksternal berfokus pada uji keaslian fisik sumber, di mana peneliti memeriksa jenis kertas, tinta, cap stempel, bentuk tulisan (paleografi), atau usia bahan untuk memastikan bahwa dokumen tersebut benar-benar asli buatan dari zaman terjadinya peristiwa, bukan buatan baru yang dipalsukan.
  • Di sisi lain, kritik internal berfokus pada uji kredibilitas atau kebenaran isi dengan memeriksa apakah pembuat dokumen bersikap jujur, netral, serta bebas dari bias politik maupun kepentingan pribadi.

Melalui proses membandingkan berbagai sumber ini (yang disebut koroborasi), peneliti akhirnya mendapatkan fakta sejarah yang teruji dan valid.

 

  1. Interpretasi (enafsiran Fakta Sejarah

Fakta-fakta sejarah yang sudah sahih tersebut lantas dirangkai pada tahap keempat, yaitu Interpretasi atau penafsiran fakta. Pada tahap ini, peneliti menyatukan fakta-fakta terpisah agar menjadi satu kesatuan alur cerita yang masuk akal dan saling berhubungan. Proses interpretasi dilakukan melalui dua langkah mendasar: analisis dan sintesis.

  • Langkah analisis dilakukan dengan menguraikan fakta-fakta sejarah menjadi bagian-bagian kecil untuk menemukan hubungan sebab-akibat (causality) antarperistiwa.
  • Setelah itu, langkah sintesis dilakukan dengan menyatukan kembali potongan fakta tersebut menjadi rangkaian kisah yang padu dan menyeluruh. Kunci utama dalam tahap ini adalah penggunaan imajinasi historis yang kritis dan bijak dari peneliti untuk membayangkan suasana masa lalu secara objektif, tanpa memasukkan prasangka pribadi atau merusak kenyataan sejarah yang sebenarnya.

 

  1. Historiografi (Penulisan Sejarah)

Rangkaian penelitian ini diakhiri dengan tahap kelima, yaitu Historiografi atau penulisan sejarah. Pada tahap ini, peneliti menyusun seluruh hasil rekonstruksi masa lalu menjadi sebuah bentuk karya tulis ilmiah, buku, atau artikel sejarah yang sistematis. Penulisan sejarah wajib memperhatikan prinsip kronologis, yakni menceritakan peristiwa secara berurutan sesuai alur waktu kejadian agar jalan ceritanya mudah dipahami dan tidak membingungkan pembaca. Selain itu, penulisan sejarah juga memerlukan sentuhan seni menulis (art of writing) agar gaya bahasa yang digunakan terasa komunikatif, mengalir, dan menyenangkan untuk dibaca, namun tetap menjaga bobot serta kaidah ilmiahnya. Melalui historiografi, sebuah peristiwa masa lalu yang telah diteliti dapat dihidupkan kembali secara utuh dan dipelajari dengan mudah oleh generasi mendatang.

 

Referensi Bacaan:

Herlina, N. (2020). Metode Sejarah (Edisi Revisi 2020). Bandung: Satya Historika.

Kuntowijoyo. (2003). Metodologi sejarah (Edisi ke-2). Tiara Wacana.

Kuntowijoyo. (2018). Pengantar ilmu sejarah (Cet. 1). Tiara Wacana.

Sukmana, W. J. (2021). Metode penelitian sejarah. Seri publikasi pembelajaran, 1(2), 1-4.

Author

Latest Post

Related Post