Untuk mengapresiasi sebuah puisi, seseorang harus memiliki dasar pengetahuan tentang puisi. Dengan dasar yang dimiliki, seseorang mampu mengapresiasi sebuah puisi lebih mendalam karena telah memahami unsur-unsur yang ada di dalam puisi. Unsur-unsur di dalam puisi tidak hanya digunakan untuk mengapresiasi sebuah puisi, tetapi juga digunakan untuk membuat sebuah puisi. Seorang penyair dalam membuat sebuah puisi pun akan memperhatikan unsur-unsur tersebut, meskipun tidak semua penyair memperhatikan unsur-unsur tersebut secara keseluruhan. Ada beberapa unsur dalam membuat puisi, yaitu:
4. Amanat
Perhatikan puisi berikut ini!
Aku dan Masa Depanku
Karya: Ulil Albab Af-Farizi
Ketika sang mentari menampakkan sinarnya
Diiringi kicauan burung yang menyapa
Detik demi detik yang berbunyi
Membangunkanku untuk menggapai cita
Buku-buku yang memandangku
Seolah tak rela menenggelamkanku dalam angan
Kutatap mentari dan berkata
Aku siap demi masa depanku
Semangat yang membara
Membangkitkan jiwa dan raga
Lonceng sekolah yang memanggil
Adalah awal mengumpulkan ilmu
Menuntut ilmu
Ialah candu bagiku
Menambah kecerdasan
Dan menjadi jembatan
Akan cita-citaku
Pada puisi di atas, seseorang dapat mengapresiasi dengan menjabarkan unsur-unsur yang terdapat di dalam puisi tersebut. Dengan pemaparan tersebut, seseorang dapat memahami makna atau pesan yang disampaikan dalam puisi tersebut.
1. Tema
Puisi di atas mengungkapkan kesiapan seorang anak dalam mempersiapkan diri untuk masa depan. Ada hal-hal yang dilakukannya. Ada sesuatu yang membuatnya senang. Hal itu tidak biasa terjadi dalam diri seorang anak. Seorang anak masih terbiasa atau lebih suka bermain, tetapi dalam puisi di atas, penyair mengungkapkan bahwa ia lebih suka untuk belajar. Oleh karena itu, tema pada puisi di atas adalah persiapan diri.
2. Rasa
Penyair mengungkapkan rasa dalam beberapa larik puisi di atas. Larik “Ketika sang mentari menampakkan sinarnya” dan “Diiringi kicauan burung yang menyapa” memberikan gambaran bahwa penyair dalam kondisi yang bahagia dalam hidupnya. Ia akan menyambut sesuatu yang dihadapinya dengan gembira. Tidak hanya itu, dalam larik “Semangat yang membara” mengungkapkan perasaan penyair untuk bersungguh-sungguh dalam dalam melakukan aktivitas atau meraih cita-cita.
3. Nada
Dalam sebuah tulisan, nada diwakili oleh sebuah tanda. Tanda baca koma, titik, seru dan lain-lain memiliki makna tersendiri. Dalam puisi di atas, tanda baca tidak ditemukan di dalam puisi di atas, namun dalam larik-larik yang dituliskan oleh penyair, nada telah tergambar dalam rasa. Nada dapat dirasa ketika puisi dilantunkan oleh penyair.
4. Gaya Bahasa
Gaya bahasa dalam puisi di atas cenderung menggunakan majas personifikasi. Penggunaan majas tersebut terdeteksi dalam beberapa larik puisi. Kalimat “Buku-buku yang memandangku dan Lonceng sekolah yang memanggil” merupakan beberapa ungkapan yang menggunakan majas personikfikasi. Kalimat-kalimat tersebut terkesan menjadikan benda mati seperti benda hidup layaknya seorang manusia.
5. Amanat
Amanat dalam pesan di atas adalah seorang anak yang menyiapkan diri untuk menggapai masa depan. Ia sangat bersemangat. Sebuah cita-cita dapat diraih dengan persiapan yang matang. Oleh karena itu, jangan pernah menyia-nyiakan waktu dan gunakanlah waktu untuk melakukan hal-hal yang terbaik.













