Kolonialisme dan Imperialisme: Dari Jatuhnya Konstantinopel hingga Perjalanan Bangsa Barat ke Nusantara

Kolonialisme dan Imperialisme: Dari Jatuhnya Konstantinopel hingga

Perjalanan Bangsa Barat ke Nusantara

 

Kolonialisme dan imperialisme merupakan dua konsep penguasaan wilayah yang saling berkaitan. Kolonialisme berasal dari kata colonus yang berarti tanah jajahan, merujuk pada upaya suatu negara untuk menguasai wilayah luar demi menguras sumber daya alam serta tenaga kerjanya untuk kepentingan negara induk (motherland). Sementara itu, imperialisme berasal dari kata imperare yang berarti memerintah, yaitu usaha untuk menguasai seluruh aspek kehidupan negara lain—mulai dari politik, ekonomi, hingga budaya—demi memperluas imperium atau kerajaan. Dalam sejarahnya, imperialisme berkembang melalui tiga fase: Imperialisme Kuno yang dipelopori Spanyol dan Portugis dengan semboyan 3G (Gold, Glory, Gospel); Imperialisme Modern yang digerakkan oleh Inggris pasca-Revolusi Industri demi mencari bahan baku dan pasar; serta Imperialisme Ultramodern (Neokolonialisme) yang berfokus pada dominasi pengaruh ideologi dan ekonomi tanpa perlu pendudukan fisik secara langsung.

Terjadinya penjelajahan samudra yang memicu lahirnya kolonialisme dan imperialisme ini tidak lepas dari peristiwa penting di Eropa. Faktor utamanya adalah jatuhnya Konstantinopel ke tangan Kesultanan Turki Usmani pada tahun 1453, yang memutus akses jalur perdagangan rempah-rempah bagi bangsa Eropa. Kondisi desperate ini mendorong bangsa Eropa untuk mencari langsung sumber rempah-rempah ke Dunia Timur. Dorongan tersebut diperkuat oleh semangat Reconquista (pembalasan atas Perang Salib), ambisi 3G, kemajuan teknologi navigasi dan kapal, cerita perjalanan Marco Polo dalam buku Imago Mundi, serta keinginan membuktikan teori Galileo Galilei bahwa bumi itu bulat.

Pencarian tersebut membawa bangsa-bangsa Barat bersaing menjelajahi samudra menuju Nusantara. Spanyol menjadi pelopor melalui Christopher Columbus yang menemukan Benua Amerika pada tahun 1492, dilanjutkan oleh rombongan Ferdinand Magelhaens dan Sebastian del Cano yang akhirnya tiba di Maluku pada tahun 1522. Di sisi lain, Portugis mengambil rute melintasi selatan Afrika. Dipelopori oleh pelayaran Bartholomeus Diaz hingga Tanjung Harapan, dilanjutkan oleh Vasco da Gama sampai di India, Portugis akhirnya berhasil menaklukkan Malaka pada tahun 1511 di bawah pimpinan Alfonso de Albuquerque, sebelum menyentuh Maluku pada tahun 1512. Persaingan ketat antara Spanyol dan Portugis ini sempat ditengahi melalui dua kesepakatan besar, yaitu Perjanjian Tordesillas (1494) yang membagi jalur pelayaran dunia menjadi Barat dan Timur, serta Perjanjian Saragosa (1529) yang menetapkan batas wilayah kekuasaan mereka di Pasifik dan Maluku.

Tidak mau ketinggalan, Inggris dan Belanda turut meramaikan perburuan rempah-rempah di Nusantara. Inggris memulai ekspedisinya melalui pelayaran Francis Drake yang berhasil mencapai Maluku pada tahun 1579, serta kunjungan Sir James Lancaster ke Aceh dan Banten pada tahun 1602, yang kemudian diperkuat dengan dibentuknya kongsi dagang East India Company (EIC). Sementara itu, Belanda sempat mengalami kegagalan saat Barentz mencoba rute Kutub Utara pada tahun 1594. Belanda baru berhasil menginjakkan kaki di Banten pada tahun 1596 di bawah pimpinan Cornelis de Houtman. Meski de Houtman diusir warga lokal karena sikapnya yang arogan dan serakah, Belanda berhasil membangun kembali hubungan perdagangan yang menguntungkan di bawah pimpinan Jacob van Neck pada tahun 1598. Peristiwa-peristiwa inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya cengkeraman kolonialisme dan imperialisme panjang di Nusantara.

Untuk mengakses media pembelajaran (via canva) silahkan klik link di judul artikel ini.

Referensi Bacaan:

  • Al Fiqri, Y. A. (2020). Perkapalan Nusantara Abad 16-18 M. Sejarah14(1), 1. DOI: 10.17977/um020v14i12020p1-21
  • Hapsari, Ratna., & Adil, M. 2022. Sejarah untuk SMA Kelas XI. Jakarta: Penerbit Erlangga.
  • Herimanto., Targiyatmi, Eko. (2026). Pembelajaran Interaktif Sejarah untuk kelas XI SMA dan MA. Solo: PT Tiga Serangkai.
  • Poesponegoro, M. D., & Notosusanto, N. (2019). Sejarah Nasional Indonesia IV: Kemunculan penjajahan di Indonesia. Balai Pustaka.

Sumber website dan museum online:

  • Silk Road and Other Trade Routes

https://www.arcgis.com/home/item.html?id=131d311b611a46bf8456d356a2410e06#overview

  • Map of the Overland and Maritime Ancient Silk Road Trade Routes. Permission to Copy this Illustration by Shizhao (2012) is Granted by the GNU Free Documentation License (Version 1.3, 3 November 2008). Source: Mark, Joshua J. (2014). Accessed in June 16, 2017. http://www.ancient.eu/image/146/
  • The Silk Roads in History (Daniel C. Waugh): Penn Museum https://share.google/urTWdKtT41WJbqW66

Author

Latest Post

Fungsi