Datangnya bulan Ramadan selalu diharapkan umat muslim se dunia karena begitu banyak berkah dan ampunan. Sebelum puasa Ramadan dilaksanakan Sekolah Islam shafta mengadakan kegiatan kajian fiqih dengan tema Sunnah-Sunnah di Bulan Ramadan. Narasumber yang memberikan paparannnya adalah ustad Abdul Wahid Al Faizin, MSEI. Acara ini diadakan secara luring, daring dan bertempat di ruang multi fungsi serta dihadiri Ketua Yayasan Al Insanul Kamil, Bapak/ibu guru, karyawan dan beberapa siswa SMA Shafta.
Mengawali paparannya ustad Faizin menjelaskan tentang makruhnya puasa yaitu tentang omongan kotor yang dikhawatirkan adanya perilaku kotor ini akan membatalkan puasa. Masih banyak yang qiyamul lail namun hanya mendapatkan capek. Penyakit orang sholeh dan ahli ibadah yaitu merasa dirinya sombong dengan apa yang dilakukan. Makruh berikutnya yaitu mengunyah dan mencicipi makanan, bekam waktu puasa, mencium dan memeluk istri.
Selanjutnya ustad Faizin menjelaskan sunnah puasa yaitu makan sahurlah kalian karena dalam makan sahur terdapat keberkahan. Di hadis ini dijelaskan saat sahur memakannya adalah barokah, maka jangan kalian tinggalkan walaupun hanya dengan seteguk air saja karena Allah dan malaikat senantiasa bersahalawat untuk orang-orang yang makan sahur. Untuk berbuka puasa dan menyegerakan puasa mendapatkan kebaikan.
Hamba yang paling dicintai di sisi-sisiKu adalah orang yang menyegerakan waktu berbuka puasa ( HR. Tirmidzi). Sunnah puasa adalah makan kurma kering yang manis. Dianjurkan berbuka dengan kurma atau jika tidak ada makan dengan yang manis atau air putih. Membaca doa waktu berbuka puasa sangat baik karena doanya tidak akan ditolak.
Sunnah berikutnya adalah memberi makan orang berpuasa seperti yang dicontohkan nabi Muhammad. Orang memberi buka orang puasa maka dia mendapatkan pahala seperti orang puasa, tidak dikurangi sedikitpun pahala orang puasa. Sementara itu mandi besar sebelum subuh yaitu sunnah. Di bulan Ramadan harus lebih memperbanyak membaca Al Quran. Seperti dicontohkan Al Aswad bisa mengkhatamkan Al Quran di bulan Ramadan setiap dua malam. Imam Qatadah mengkhatamkan Al Quran dalam tujuh hari. Namun masuk Ramadan khatam Al Quran tiga hari khatam.
Seni dakwah kepada orang lain tanpa menyinggung perasaan orang lain dan dilakukan dengan cara-cara lembut sehingga bisa menyadarkan orang untuk berbuat lebih baik dan tidak melakukan keburukan lagi.













