Apakah Kamu Tahu ?
Menurut Wawan (2010:48) perilaku merupakan sebuah respon individu terhadap suatu stimulus atau suatu tindakan yang dapat diamati serta memiliki waktu dan tujuan yang disadari maupun tidak disadari. Selain itu para ahli psikologi mengartikan tingkah laku atau perilaku dengan arti setiap kegiatan atau berpacaran merupakan masa pendekatan antar individu dari kedua lawan jenis, yang ditandai dengan saling pengenalan pribadi baik kekurangan dan kelebihan dari masing – masing individu. Masa remaja (usia 12–18 tahun) adalah fase transisi penting dari anak-anak menuju dewasa yang ditandai dengan perubahan fisik, hormonal, emosional, dan sosial. Salah satu manifestasi dari perubahan ini adalah munculnya ketertarikan interpersonal dan dorongan untuk membangun hubungan romantis (berpacaran). Pertanyaannya mengapa para remaja sering mendekati perilaku berpacaran? Faktor fisiologis dan hormonal salah satu sebabnya. Yaitu Lonjakan hormon seksual (estrogen, progesteron, dan testosteron) meningkatkan dorongan afeksi dan ketertarikan pada lawan jenis. Selain itu, Keinginan untuk diakui, dicintai, dan merasakan kedekatan emosional di luar keluarga juga salah satu faktor penyebabnya. Adanya dorongan sosial agar remaja dianggap dewasa, populer, atau tidak merasa kesepian (fear of missing out). Dan yang terakhir yaitu adanya pengaruh dari media sosial maupun Konstruksi romantisme di film dan musik yang sering kali mengidealkan hubungan di usia muda.
Risiko Perilaku Berpacaran Bebas/Beresiko
Perilaku berpacaran yang melewati batasan normatif, kesehatan, dan hukum dapat berdampak serius pada masa depan remaja:
-
Dampak Kesehatan Seksual dan Reproduksi
-
Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD): Memutus akses pendidikan dan berdampak pada kesehatan fisik serta mental remaja.
-
Infeksi Menular Seksual (IMS): Risiko penularan penyakit seperti Gonore, Sifilis, hingga HIV/AIDS akibat perilaku seksual beresiko.
-
-
Dampak Psikologis
-
Depresi, trauma, penurunan rasa percaya diri, dan kecemasan akibat konflik atau tindakan kekerasan dalam hubungan.
-
-
Dampak Sosial dan Akademis
-
Penurunan prestasi sekolah, kecenderungan membolos, stigma sosial, hingga isolasi dari lingkaran keluarga dan teman.
-
Strategi Membangun Batasan Diri (Setting Boundaries)
Untuk menjaga diri tetap aman dalam berpacaran, remaja perlu menerapkan langkah-langkah berikut:
-
Tetapkan Batasan Tegas (Personal Boundaries): Ketahui dengan pasti apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam hubungan (fisik, emosional, dan waktu).
-
Sikap Asertif: Berani mengatakan “TIDAK” dengan tegas jika pasangan meminta atau memaksa melakukan hal yang melanggar nilai/batasan pribadi.
-
Hindari Situasi Berisiko Tinggi: Hindari berduaan di tempat yang sepi, tertutup, atau di bawah pengaruh alkohol dan obat-obatan terlarang.
-
Jaga Keseimbangan Hidup: Tetap prioritaskan pendidikan, hubungan dengan keluarga, dan pengembangan minat/bakat.
Diskusi Reflektif
-
Menurut Anda, apa indikator paling utama bahwa suatu hubungan pacaran sudah tidak sehat?
-
Bagaimana cara terbaik menolak ajakan pasangan yang memaksa melakukan hal di luar batasan tanpa harus merasa bersalah?
-
Peran apa yang bisa dilakukan oleh keluarga dan sekolah untuk mendampingi remaja agar terhindar dari kekerasan dalam pacaran?











