Satu Peristiwa, Dua Kacamata: Memahami Diakronik dan Sinkronik Secara Praktis

Selamat Datang di Dunia Sejarah: Bukan Sekadar Hafalan Angka dan Nama Pahlawan!

Yukk kita pelajari cara kerja konsep diakronik dan sinkronik dengan contoh kehidupan sehari-hari.

Pernahkah kamu berpikir, “Duh, belajar sejarah itu membosankan banget, cuma disuruh menghafal tanggal lahir tokoh yang sudah meninggal dan tahun perang yang tidak ada habisnya!”? Jika kamu pernah berpikiran begitu, tenang! Kamu tidak sendiri. Kebanyakan orang mengira sejarah hanyalah tumpukan kertas tua berdebu. Padahal, sejarah sebenarnya adalah sebuah kacamata super canggih yang membuat kita bisa memahami alasan dunia hari ini berbentuk seperti sekarang.

Kenapa harga barang bisa naik turun? Kenapa gaya kencan anak muda zaman dulu berbeda jauh dengan era scrolling TikTok? Kenapa negara kita berbentuk republik dan bukan kerajaan? Jawabannya ada di dalam sejarah. Nah, untuk membuka rahasia masa lalu tersebut, para sejarawan menggunakan dua jurus utama yang disebut Berpikir Diakronik dan Berpikir Sinkronik.

Bayangkan kedua jurus ini seperti dua mode kamera di ponsel pintar kamu: Mode Video (Timelapse) dan Mode Foto Detail (Macro/Portrait)!

  1. Jurus Pertama — Berpikir Diakronik (Mode Video Timelapse)

Apa Itu Diakronik?

Secara etimologi, kata Diakronik berasal dari bahasa Yunani, yaitu Dia (melintasi/melalui) dan Chronos (waktu). Jadi, secara sederhana, berpikir diakronik adalah cara memandang sebuah peristiwa dengan melintasi urutan waktu.

Ciri utama dari berpikir diakronik adalah bersifat kronologis (berurutan secara runtut dari awal sampai akhir) dan mengamati proses perubahan dari masa ke masa. Dalam istilah akademis, pendekatan ini sifatnya memanjang dalam waktu, tetapi menyempit dalam ruang. Fokus utamanya adalah melihat bagaimana suatu hal berkembang dan berubah dari detik ke detik, tahun ke tahun, atau abad ke abad.

Analogi Gampang: Nonton Serial Drama dari Episode 1 sampai Tamat.

Ketika kamu menonton drama Korea atau serial di platform streaming, kamu tidak bisa langsung meloncat ke episode terakhir tanpa memahami apa yang terjadi di episode 1, 2, dan 3. Kamu perlu tahu alur ceritanya: bagaimana konflik dimulai, berkembang, memuncak (klimaks), hingga akhirnya selesai (resolusi). Nah, itulah cara kerja berpikir diakronik!

Contoh Nyata Berpikir Diakronik: Perkembangan Teknologi Ponsel (Smartphone). Mari kita lihat perkembangan teknologi yang ada di genggamanmu saat ini melalui kacamata diakronik:

  • Tahun 1990-an: Ponsel berukuran besar seperti batu bata, layar hitam-putih, dan hanya bisa digunakan untuk telepon serta SMS.
  • Tahun 2000-an: Ukuran ponsel makin mengecil, layar mulai berwarna, mengenal nada dering polyphonic, dan gim ikonik Snake.
  • Tahun 2010-an: Era smartphone layar sentuh dimulai, jaringan internet 3G/4G makin cepat, dan media sosial mulai mewabah.
  • Tahun 2020-an hingga Sekarang: Ponsel tipis dengan layar lipat, kamera setara DSLR, jaringan 5G, dan teknologi AI terintegrasi.

Ketika kamu menceritakan garis waktu perkembangan ponsel dari bentuk batu bata hingga layar lipat secara berurutan, kamu sedang menerapkan konsep berpikir diakronik!

Contoh dalam Sejarah Indonesia: Peristiwa Beruntun Menuju Kemerdekaan 1945

  • 15 Agustus 1945: Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu setelah kota Hiroshima dan Nagasaki dijatuhi bom atom.
  • 16 Agustus 1945 (Dini Hari): Golongan muda “menculik” Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok untuk menjauhkan mereka dari pengaruh Jepang.
  • 16 Agustus 1945 (Malam): Rombongan kembali ke Jakarta dan merumuskan teks Proklamasi di rumah Laksamana Maeda.
  • 17 Agustus 1945 (Pukul 10.00 WIB): Pembacaan Teks Proklamasi Kemerdekaan di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta.

Setiap peristiwa di atas memiliki hubungan sebab-akibat (kausalitas) yang berurutan. Tanpa kekalahan Jepang, tidak ada peristiwa Rengasdengklok, dan tanpa Rengasdengklok, pembacaan proklamasi mungkin tidak terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945.

 

  1. Jurus Kedua — Berpikir Sinkronik (Mode Foto Macro Detail)

Apa Itu Sinkronik?

Kata Sinkronik juga berasal dari bahasa Yunani, yaitu Syn (bersama/dengan) dan Chronos (waktu). Berpikir sinkronik adalah cara menganalisis suatu peristiwa sejarah pada satu titik waktu tertentu secara mendalam, meluas, dan menyeluruh.

Berbeda dengan diakronik yang memanjang mengikuti perjalanan waktu, sinkronik sifatnya meluas dalam ruang, tetapi menyempit dalam waktu. Maksudnya, kita tidak berfokus pada rentang waktu yang panjang, melainkan “menghentikan waktu” (seperti menekan tombol pause pada video) lalu membedah seluruh aspek kehidupan yang ada di momen tersebut.

Analogi Gampang: Menginvestigasi Foto Momen (Crime Scene Investigation).

Bayangkan kamu melihat selembar foto suasana di sebuah festival musik. Kamu menghentikan momen tersebut dan mulai meneliti seluruh detail di dalam foto:

  • Berapa jumlah penonton yang hadir? (Aspek Demografi)
  • Pakaian dan gaya apa yang dominan dipakai? (Aspek Tren Budaya)
  • Berapa harga tiket dan bagaimana perputaran uang di stan makanan? (Aspek Ekonomi)
  • Bagaimana sistem pengamanan dan kerapian tata panggungnya? (Aspek Struktur/Sistem)

Kamu tidak mempertanyakan apa yang terjadi 5 tahun sebelum foto itu diambil, melainkan membedah semua detail yang ada di dalam foto itu. Itulah cara berpikir sinkronik!

Contoh Nyata Berpikir Sinkronik: Keadaan Indonesia Saat Proklamasi 17 Agustus 1945. Jika pendekatan diakronik melihat kronologi harinya, maka pendekatan sinkronik membedah kondisi masyarakat pada tanggal 17 Agustus 1945 dari berbagai sudut pandang ilmu sosial:

  • Sudut Pandang Ekonomi: Bagaimana kondisi keuangan dan penderitaan rakyat akibat krisis pasca-penjajahan Jepang? (Terjadi hiperinflasi dan kelangkaan bahan pangan).
  • Sudut Pandang Sosial-Budaya: Tingkat pendidikan masyarakat saat itu, pakaian yang dikenakan warga yang hadir di Pegangsaan Timur, serta penggunaan bahasa Indonesia awal.
  • Sudut Pandang Politik: Peta kekuatan politik antara Golongan Tua, Golongan Muda, pihak Tentara Jepang, serta perwakilan daerah.
  • Sudut Pandang Psikologi Sosial: Suasan hati dan kecemasan bercampur semangat membara rakyat Jakarta saat menghadapi ancaman tentara Jepang yang masih bersenjata lengkap.

Dengan pendekatan sinkronik, sejarah tidak lagi sekadar cerita “lalu terjadi A, kemudian B”, melainkan analisis kaya yang menggabungkan ilmu sosiologi, ekonomi, politik, dan antropologi!

 

  1. Matriks Perbandingan Biar Tidak Tertukar!

Untuk memudahkan pemahaman dan persiapan diskusi di kelas, berikut adalah tabel komparasi ringkas antara berpikir diakronik dan sinkronik:

 

  1. Kombinasi Maut — Kenapa Kita Membutuhkan Keduanya?

Apakah seorang sejarawan hanya boleh memilih salah satu pendekatan?

Jawabannya: Tidak!

Analisis sejarah yang paling berkualitas adalah gabungan dari Diakronik + Sinkronik (sering disebut sebagai pendekatan Sosio-Historis).

  • Diakronik memberikan kamu kerangka cerita (alur cerita yang runtut dari awal hingga akhir).
  • Sinkronik memberikan kamu daging dan warna (detail situasi yang membuat cerita tersebut hidup dan terasa nyata).
  • Tanpa diakronik, sejarah akan membingungkan karena kehilangan alur kejadiannya. Tanpa sinkronik, sejarah akan terasa garing dan kering karena hanya berisi daftar tanggal tanpa pemahaman situasi yang mendalam.

 

  1. Konsep Pelengkap: Ruang, Waktu, Perubahan, dan Keberlanjutan

Selain Diakronik dan Sinkronik, ada empat elemen penting yang menjadi pilar utama dalam pemahaman materi Sejarah Kelas X:

  • Manusia (Subjek & Objek): Manusia adalah aktor utama. Tanpa keterlibatan manusia, sebuah peristiwa tidak dapat dikategorikan sebagai peristiwa sejarah.
  • Ruang (Spasial): Tempat terjadinya peristiwa (misalnya: Rengasdengklok, Surabaya, atau Bandung). Ruang memberikan batasan geografis.
  • Waktu (Temporal): Kapan peristiwa tersebut terjadi. Waktu bersifat linier (berjalan maju dan tidak dapat diulang).
  • Perubahan & Keberlanjutan (Change & Continuity):
  • Perubahan (Change): Ketika masyarakat mengalami pergeseran mendasar dalam waktu singkat (contoh: peralihan dari status bangsa terjajah menjadi bangsa merdeka).
  • Keberlanjutan (Continuity): Ketika adopsi tradisi, nilai, atau struktur lama tetap bertahan meskipun zaman terus berganti (contoh: budaya gotong royong yang bertahan dari era kerajaan hingga era digital saat ini).

 

Kesimpulan

Belajar sejarah pada dasarnya mirip dengan menjadi seorang detektif waktu! Dengan menguasai cara berpikir diakronik dan sinkronik, kamu tidak hanya dilatih menjadi orang yang pandai mengingat masa lalu, tetapi juga menjadi individu yang kritis dalam menganalisis fenomena masa kini. Segala hal yang ada di sekitar kita hari ini adalah hasil dari rantai panjang peristiwa masa lalu yang saling berkaitan!

Pdf rangkuman materi bisa diunduh disini!

Referensi Bacaan:

  1. Ainiyah, Linda. (2013). Konsep Dasar Berpikir Sejarah Kelas X/Ganjil. Sumber Belajar-SEAMOLEC.
  2. Kartodirdjo, S. (1992). Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
  3. (2013). Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana.
  4. Suryadi, A. (2018). Berpikir Kronologis, Sinkronik, Diakronik, Ruang dan Waktu dalam Sejarah. Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia.
  5. Syahputra, M. I., Purwanta, H., & Djono, D. (2024). Kompetensi Berpikir Historis dalam Pembelajaran Sejarah. WIKSA: Prosiding Pendidikan Sejarah Universitas Indraprasta PGRI, 1(2), 229-244.

 

Author

Latest Post

Fungsi