Secara bahasa, Taksir berarti “pecah” atau “rusak”.
Jamak Taksir adalah kata benda jamak (lebih dari dua) yang berubah dari bentuk tunggalnya (mufrad) dengan cara memecah susunan hurufnya, baik dengan menambah, mengurangi, atau mengubah harakat.
Jamak Taksir adalah kata benda jamak (lebih dari dua) yang berubah dari bentuk tunggalnya (mufrad) dengan cara memecah susunan hurufnya, baik dengan menambah, mengurangi, atau mengubah harakat.
Berbeda dengan Jamak Mudzakkar Salim (akhirannya pasti -uuna/-iina) atau Jamak Muannas Salim (akhirannya -aatun), Jamak Taksir tidak memiliki satu rumus akhiran yang tetap.
Cara Perubahan (Pola)
Ada beberapa cara bagaimana sebuah kata tunggal berubah menjadi Jamak Taksir:
- Menambah Huruf:
- Contoh: سِنٌّ (Sinnun – Gigi) أَسْنَانٌ (Asnaanun – Gigi-gigi).
- Mengurangi Huruf:
- Contoh: كِتَابٌ (Kitaabun – Buku) كُتُبٌ (Kutubun – Buku-buku).
- Hanya Mengubah Harakat:
- Contoh: أَسَدٌ (Asadun – Singa) أُسْدٌ (Usdun – Singa-singa).
jenis Jamak Taksir
Para ulama nahwu membaginya menjadi dua kategori besar berdasarkan jumlahnya:
- Jamul Qillah: Digunakan untuk benda berjumlah 3 sampai 10. (Contoh pola: Af’ulun, Af’aalun, Af’ilatun).
- Jamul Katsrah: Digunakan untuk benda berjumlah lebih dari 10 sampai tak terhingga. (Contoh pola: Fu’uulun, Mafa’ilu).



