Mengenali Kecemasan (Anxiety) dan Mengendalikan Pikiran Negatif dalam Diri

gangguan_kecemasan_1696327053

A. Pengertian Kecemasan

Kecemasan adalah suatu keadaan psikologis yang ditandai dengan perasaan takut atau khawatir serta gelisah yang umumnya sering terjadi pada remaja. Oleh karena itu, strategi yang dapat dilakukan untuk mengatasi kecemasan yaitu tindakan relaksasi otot progresif yang menekan kerja sistem saraf simpatis dan mengaktifkan kerja sistem saraf parasimpatis sehingga dapat menimbulkan rasa kenyaman dan senang. Fenomena yang ditemukan yaitu banyaknya remaja yang merasa khawatir akan masa depannya dan takut akan penilaian negative oleh orang lain terhadap dirinya. Tanda dan gejala yang dapat dijumpai pada remaja yang sedang mengalami kecemasan diantaranya: kesulitan untuk tidur, sering merasa gelisah atau khawatir tanpa ada alasan yang jelas, sulit berkosentrasi, kesulitan
berinteraksi dengan banyak orang terlebih khusus saat di depan umum, khawatir akan penilain oleh orang lain, perubahan pola makan, dan menarik diri dari lingkungan sosial, keluarga dan pertemanan (Poetry et al., 2024). Kecemasan dapat memberikan banyak dampak terhadap perkembangan fisik dan psikis pada remaja. Dampaknya
menimbulkan berbagai dapat gangguan kesehatan seperti dampak fisiologis, kognitif, dan afektif. Kondisi kecemasan akan dapat mempengaruhi pikiran, perasaan, reaksi fisik, dan tingkah laku dari seseorang seperti, perilaku merusak, menghindar, membantah, menghina, menunda nunda pekerjaan atau penyelesaian tugas sekolah, malas sekolah, dan terlibat dalam kegiatan negatif untuk mencari kesenangan secara berlebihan dan berisiko (Liliana, Anita Lestiawati, 2019). Intervensi yang ditawarkan untuk mengatasi rasa cemas pada remaja yaitu dengan melakukan tindakan relaksasi otot progresif. Tindakan relaksasi otot progresif dapat menurunkan bekerja kecemasan untuk dan
memberikan rasa kenyamanan, hal ini karena dapat menekan kerja sistem saraf simpatis dan meningkatkan kerja sistem saraf para simpatis sehingga tubuh akan melepaskan hormon endorphin (Ambarwati & Supriyanti, 2020). Kecemasan merupakan kondisi psikologis yang penuh dengan rasa takut dan khawatir. Perasaan takut dan khawatir akan sesuatu hal yang belum tentu terjadi. Kecemasan berasal dari bahasa latin (anxius) dan bahasa jerman (anst), yaitu suatu kata yang digunakan untuk menggambarkan efek negatif. Kecemasan merupakan keadaan emosi yang muncul saat seseorang sedang mengalami stress, dan ditandai dengan perasaan tegang, pikiran yang membuat seseorang merasa khawatir disetai respon fisik seperti jantung berdetak kencang, naiknya tekanan darah,
dan lain sebagainya (Astuti et al., 2019). Kecemasan adalah perasaaan yang tidak menyenangkan yang timbul dari dalam diri. Kecemasan atau ansietas adalah suatu kondisi yang melekat pada kehidupan sehar-hari yang menggambarkan keadaan khawatir, gelisah, takut. Kecemasan juga sering terjadi dalam hidup manusia yang diakibatkan dari adanya respon atau konflik. Keadaan cemas tersebut dapat terjadi atau menyertai kondisi situasi kehidupan dan berbagai gangguan kesehatan. Seseorang merasa cemas akan merasakan seperti gelisah, khawatir, was-was dan bingung. Kecemasan menurut Hawari pada (Yanti Budiyanti, Lisna Annisa Fitriana, Lena Helen
Supriatna, Erna Irawan, 2022) adalah gangguan alam perasaan dengan kekhawatiran yang mendalam dan berkelanjutan, tetapi belum mengalami gangguan dalam menilai realitas, kepribadian masih tetap utuh dan perilaku dapat terganggu, tetapi masih dalam batas-batas normal.

B. Tanda – Tanda Dan Gejala Kecemasan
Menurut Jeffrey S. Nevid, 2021, ada beberapa tanda-tanda kecemasan, yaitu :
a) Tanda-Tanda Fisik Kecemasan.
Tanda fisik kecemasan diantaranya yaitu: kegelisahan, kegugupan, tangan atau anggota tubuh yang bergetar atau gemetar, sensasi dari tegang di sekitar dahi, banyak berkeringat, telapak tangan yang berkeringat, pening atau pingsan, mulut dan kerongkongan terasa kering, kesulitan berbicara, kesulitan bernafas, nafas menjadi pendek, jantung yang terasa berdebar keras atau berdetak kencang, suara yang bergetar, jari-jari atau anggota tubuh yang menjadi dingin, pusing, merasa lemas atau mati rasa, sulit menelan, kerongkongan merasa tersekat, leher atau punggung terasa kaku, sensasi seperti tercekik atau tertahan, tangan yang dingin dan lembab, terdapat gangguan sakit perut atau mual, panas dingin, sering buang air kecil, wajah terasa memerah, diare, dan merasa sensitif atau “mudah marah”.
b) Tanda-Tanda Behavioral Kecemasan
Tanda-tanda behavorial kecemasan diantaranya yaitu: perilaku menghindar, perilaku melekat dan dependen, dan perilaku terguncang.
c) Tanda-Tanda Kognitif Kecemasan
Tanda-tanda kognitif kecemasan diantaranya khawatir tentang sesuatu, perasaan terganggu akan ketakutan atau aprehensi terhadap sesuatu yang terjadi di masa depan, keyakinan bahwa sesuatu yang mengerikan akan segera terjadi (tanpa ada penjelasan yang jelas), terpaku pada sensasi ketubuhan, sangat waspada terhadap sensasi ketubuhan, merasa terancam oleh orang atau peristiwa yang normalnya hanya sedikit atau tidak mendapat perhatian, ketakutan akan kehilangan kontrol, ketakutan akan ketidakmampuan untuk mengatasi masalah, berpikir bahwa dunia mengalami keruntuhan, berpikir bahwa semuanya tidak lagi bisa dikendalikan, berpikir bahwa semuanya terasa sangat membingungkan tanpa bisa diatasi, khawatir terhadap hal-hal yang sepele, berpikir tentang hal mengganggu yang sama secara berulang-ulang, berpikir bahwa harus bisa kabur dari keramaian (kalau tidak pasti akan pingsan), pikiran terasa bercampur aduk atau kebingungan, tidak mampu menghilangkan pikiran-pikiran terganggu, berpikir akan segera mati (meskipun dokter tidak menemukan sesuatu yang salah secara medis), khawatir akan ditinggal sendirian, dan sulit berkonsentrasi atau memfokuskan pikiran.

Kita semua memiliki batas toleransi dan jika kita tidak mengatasi penyebab-penyebab kecil sehari-hari, batas toleransi ini akan terlampaui dan akan menimbulkan tindak kekerasan, depresi atau kehancuran. Kita kadang
menyadari apa yang terjadi, dan berusaha keras untuk selalu berada dalam batas toleransi, namun jika kita tidak
memiliki teknik penurunan kecemasan dan pemeliharaan stres yang efektif maka akan sangat berdampak buruk.

Author

Latest Post

Related Post