Mengungkap makna isra’ mi’raj, ketika langit terbuka di penghujung rajab. Malam terakhir bulan Rajab membawa keistimewaan tersendiri bagi umat Islam di seluruh dunia. Di penghujung bulan yang mulia ini, umat Muslim memperingati peristiwa agung Isra’ Mi’raj, sebuah perjalanan spiritual luar biasa yang dialami Nabi Muhammad SAW. Peristiwa ini bukan sekadar catatan sejarah, melainkan momen penuh hikmah yang terus menginspirasi kehidupan spiritual kaum muslimin hingga hari ini.
Isra’ Mi’raj terdiri dari dua bagian perjalanan yang berbeda namun saling berkaitan. Isra’ adalah perjalanan malam Rasulullah SAW dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Palestina. Sementara Mi’raj adalah perjalanan vertikal dari Masjidil Aqsa menuju Sidratul Muntaha, menembus tujuh langit hingga berada di hadapan Allah SWT.
Baca Juga: Isra’ Mi’raj
Perjalanan yang berlangsung dalam semalam ini menjadi bukti kebesaran Allah yang mampu melampaui segala batasan ruang dan waktu. Nabi Muhammad SAW dibawa oleh malaikat Jibril mengendarai Buraq, seekor kendaraan surgawi yang bercahaya, melintasi jarak ribuan kilometer dalam sekejap.
Bulan Rajab merupakan salah satu dari empat bulan suci dalam Islam (Asyhur al-Hurum). Bulan ini menjadi waktu yang penuh berkah, di mana pintu rahmat Allah terbuka lebar. Para ulama meyakini bahwa pemilihan malam terakhir Rajab untuk peristiwa Isra’ Mi’raj bukanlah kebetulan, melainkan menunjukkan kemuliaan bulan ini dalam kalender Hijriyah.
Malam tersebut menjadi simbol bahwa bahkan di saat-saat tersulit sekalipun—Nabi Muhammad SAW saat itu tengah berduka atas wafatnya istri tercinta Khadijah dan pamannya Abu Thalib—Allah memberikan penghiburan dan kemuliaan yang tak terhingga.
Amalan pada malam 27 rajab;
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِمُشَاهَدَةِ أَسْرَارِ الْمُحِبِّينَ،
وَبِالْخَلْوَةِ الَّتِي خَصَّصْتَ بِهَا سَيِّدَ الْمُرْسَلِينَ حِينَ
أُسْرِيتَ بِهِ لَيْلَةَ السَّابِعِ وَالْعِشْرِينَ، أَنْ تَرْحَمَ قَلْبِي
الْحَزِينَ، وَتُجِيبَ دَعْوَتِي، يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِينَ.
dibaca pada (Malam Sabtu, 17 Januari 2026) mulai dari setelah adzan maghrib, sampai sebelum terbitnya fajar (subuh)
FADHILAH / KEUTAMAAN:
barangsiapa mengamalkannya & menyebutkan apa yang dia inginkan, niscaya Allah akan mengabulkan do’anya tersebut.
Dikutip dari kitab Dlou’u as Siroj karangan Syeikh Muhamad Amin al-Kurdiy al-Irbiliy, disebutkan bahwasanya:
ومن قرأ الدعاء الآتي ليلة السابع والعشرين
من رجب وطلب مقصوده، أجاب الله دعاءه
وهو هذا (بسم الله الرحمن الرحيم)
اللهم إني أسألك بمشاهدة أسرار المحبين وبالخلوة
التي خصصت بها سيد المرسلين حين أسريت به
ليلة السابع والعشرين أن ترحم قلبي الحزين وتجيب
دعوتي، يا أكرم الأكرمين.
Artinya:
Barangsiapa seseorang yang membaca doa berikut ini: “allahumma inni as-aluka bimusyahadati asrooril
muhibbiina wa bilkholwatil latii khosshosta bihaa sayyidal mursaliina hiina asroita bihi lailatas saab’i wal’i sriina an tarhama qolbil haziina wa tujiba da’watil yaa arhama roohimiin.”
pada waktu malam hari tanggal 27 Rojab, kemudian ia menyebutkan sesuatu yang ia inginkan, niscaya Allah SWT. akan mengabulkan do’anya tersebut.
Jika ingin doa dengan versi pendek, di kutib dari kitab Kanzun Najah & Fawaidul Mukhtaroh membaca;
أَحْمَدُ رَسُولُ اللَّهِ، مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ
Dibaca sebanyak 35x saat khotib sedang naik diatas mimbar untuk berkhutbah, pada jumat terakhir bulan Rajab. Keutamaannya yakni “barang siapa mengamalkannya, niscaya orang tersebut tidak akan kehabisan uang dari tangannya selama 1 tahun kedepan”.
Dalam kitab Kanzu an Najah wa as – Surur karangan syekh Abdul hamid disebutkan:
ومن فوائد الشيخ علي الأجهوري رحمه الله تعالى عنه كما في ترجمته بخلاصة الأثر
أن من قرأ في آخر جمعة من رجب
والخطيب على المنبر
أحمد رسول الله محمد رسول الله
خمسًا وثلاثين مرة لا تنقطع الدراهم من يده تلك السنة
Salah satu dari beberapa faedah Syekh Ali al Ujhuriy, seperti yang tertulis dalam terjemahnya kitab Khulashoh al Atsar:
Barang siapa, membaca “Ahmad Rosulullah Muhammad Rosulullah” sebanyak 35x pada hari jumat terakhir bulan rajab, tepatnya saat khotib sedang naik diatas mimbar (untuk berkhutbah) niscaya tidak akan terputus uang dari tangannya selama satu tahun tersebut.
Isra’ Mi’raj di penghujung Rajab adalah pengingat bahwa perjalanan spiritual kita tidak mengenal batas. Seperti Rasulullah yang diangkat hingga Sidratul Muntaha, setiap muslim memiliki potensi untuk terus mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui ketaatan, kesabaran, dan keikhlasan.
Malam terakhir Rajab mengajak kita untuk berhenti sejenak dari hiruk pikuk kehidupan, merenungkan makna keberadaan kita, dan memperbarui niat untuk menjadi hamba yang lebih baik. Sebagaimana Nabi menembus tujuh langit, semoga kita mampu menembus kabut keduniawaan dan mencapai nur ilahi dalam kehidupan kita.
SPMB SMP-SMA SHAFTA 2026/2027
Telepon: 0811-32-177-00










